Jumat, 23 September 2011

Askep Diaper Rash


Askep Diaper Rash

from JANUARD
BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar  Belakang
Ruam popok adalah iritasi pada kulit bayi Ibu di daerah pantat. Ini bisa terjadi jika ia popok basahnya telat diganti, popoknya terlalu kasar dan tidak menyerap keringat, infeksi jamur atau bakteri atau bahkan eksema. Ruam popok merupakan masalah kulit pada daerah genital bayi yang ditandai dengan timbulnya bercak-bercak merah dikulit, biasanya terjadi pada bayi yang memiliki kulit sensitif dan mudah terkena iritasi. Bercak-bercak ini akan hilang dalam beberapa hari jika dibasuh dengan air hangat, dan diolesi lotion atau cream khusus ruam popok, atau dengan melepaskan popok beberapa waktu.
Incidence rate (angka kejadian) RUAM POPOK berbeda-beda di setiap negara, bergantung pada hygiene, pengetahuan orang tua (pengasuh) tentang tata cara penggunaan popok dan menurut saya mungkin juga berhubungan dengan faktor cuaca. Kimberly A Horii, MD (asisten profesor spesialis anak Universitas Misouri) dan John Mersch, MD, FAAP menyebutkan bahwa 10-20 % Diaper dermatitis dijumpai pada praktek spesialis anak di Amerika. Sedangkan prevalensi pada bayi berkisar antara 7-35%, dengan angka terbanyak pada usia 9-12 bulan. Sementara itu Rania Dib, MD menyebutkan ruam popokk berkisar 4-35 % pada usia 2 tahun pertama.
Meskipun ruam popok menyebabkan sakit dan sangat mengganggu bayi Ibu, namun biasanya tidak berbahaya. Ruam popok umumnya terjadi pada bayi dengan kulit yang lebih sensitive.Jika ruam pada bayi Ibu disebabkan oleh popok yang basah atau infeksi jamur, maka hanya dengan melepas popok dan membiarkan kulitnya terkena angin sudah mampu menyembuhkan.Pastikan Ibu mengganti popoknya dengan rutin. Membasuh pantat bayi dan mengeringkannya sebelum memakaikan yang baru. Bisa juga menggunakan krim khusus untuk membantu melindungi iritasi pada kulit bayi akibat ruam popok. Untuk mengetahui lebih jelas ha-hal yang berkaitan dengan Diaper rash, maka penulis menyusun makalah yang membahas lebih spesifik mengenai Ruam Popok.
B.       Tujuan Penulisan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk membahas lebih spesifik dari Diaper rash, Manifestasi Klinis serta tata cara pelaksanaan dan pencegahannya. Selain itu, dalam makalah ini disertakan pula Asuhan Keperawatan Diaper Rash, yang bertujuan untuk memudahkan kita dalam menanggulangi/ memberi tindakan pada bayi/ anak yang terkena ruam popok  sesuai dengan tindakan prosedur keperawatan yang benar.
C.      Manfaat
Manfaat dari asuhan keperawatan anak dengan Diaper Rash adalah untuk membantu dalam melakukuan asuhan keperawatan yang valid mulai dari pengkajian, diagnose keperawatan, proses kaperawatan, implementasi, dan evaluasi.

BAB II
PEMBAHASAN DIAPER RASH

A.      Pengertian
Ruam popok adalah iritasi pada kulit bayi Ibu di daerah pantat. Ini bisa terjadi jika ia popok basahnya telat diganti, popoknya terlalu kasar dan tidak menyerap keringat, infeksi jamur atau bakteri atau bahkan eksema. Ruam popok merupakan masalah kulit pada daerah genital bayi yang ditandai dengan timbulnya bercak-bercak merah dikulit, biasanya terjadi pada bayi yang memiliki kulit sensitif dan mudah terkena iritasi. Bercak-bercak ini akan hilang dalam beberapa hari jika dibasuh dengan air hangat, dan diolesi lotion atau cream khusus ruam popok, atau dengan melepaskan popok beberapa waktu. Ruam popok (diaper rash) adalah gangguan yang lazim ditemukan pada bayi. Gangguan ini banyak mengenai bayi berumur kurang dari 15 bulan, terutama pada kisaran usia 8 - 10 bula
B.       Anatomi & Fisiologi Organ Kulit
1.         Epidermis (Kutilkula) Epidermis merupakan lapisan terluar dari kulit, yang memiliki struktur tipis dengan ketebalan sekitar 0,07 mm terdiri atas beberapa lapisan, antara lain seperti berikut :
a.         Stratum korneum yang disebut juga lapisan zat tanduk. Letak lapisan ini berada paling luar dan merupakan kulit mati. Jaringan epidermis ini disusun oleh 50 lapisan sel-sel mati, dan akan mengalami pengelupasansecara perlahan-lahan, digantikan dengan sel telur yang baru.
b.        Stratum lusidum, yang berfungsi melakukan “pengecatan” terhadap kulit dan rambut. Semakin banyak melanin yang dihasilkan dari sel-sel ini, maka warna kulit akan menjadi semakin gelap.
c.         Stratum granulosum, yang menghasilkan pigmen warna kulit, yang disebut melamin. Lapisan ini terdiri atas sel-sel hidup dan terletak pada bagian paling bawah dari jaringan epidermis.
d.        Stratum germinativum, sering dikatakan sebagai sel hidup karena lapisan ini merupakan lapisan yang aktif membelah. Sel-selnya membelah ke arah luar untuk membentuk sel-sel kulit teluar. Sel-sel yang baru terbentuk akan mendorong sel-sel yang ada di atasnya selanjutnya sel ini juga akan didorong dari bawah oleh sel yang lebih baru lagi. Pada saat yang sama sel-sel lapisan paling luar mengelupas dan gugur.
2.         Jaringan dermis memiliki struktur yang lebih rumit daripada epidermis, yang terdiri atas banyak lapisan. Jaringan ini lebih tebal daripada epidermis yaitu sekitar 2,5 mm. Dermis dibentuk oleh serabut-serabut khusus yang membuatnya lentur, yang terdiri atas kolagen, yaitu suatu jenis protein yang membentuk sekitar 30% dari protein tubuh. Kolagen akan berangsur-angsur berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Itulah sebabnya seorang yang sudah tua tekstur kulitnya kasar dan keriput. Lapisan dermis terletak di bawah lapisan epidermis. Lapisan dermis terdiri atas bagian-bagian berikut. Folikel rambut dan struktur sekitarnya
a.         Akar Rambut
Di sekitar akar rambut terdapat otot polos penegak rambut (Musculus arektor pili), dan ujung saraf indera perasa nyeri. Udara dingin akan membuat otot-otot ini berkontraksi dan mengakibatkan rambut akan berdiri. Adanya saraf-saraf perasa mengakibatkan rasa nyeri apabila rambut dicabut.
b.        Pembuluh Darah
Pembuluh darah banyak terdapat di sekitar akar rambut. Melalui pembuluh darah ini akar-akar rambut mendapatkan makanan, sehingga rambut dapat tumbuh.
c.         Kelenjar Minyak (glandula sebasea)
Kelenjar minyak terdapat di sekitar akar rambut. Adanya kelenjar minyak ini dapat menjaga agar rambut tidak kering.
d.        Kelenjar Keringat (glandula sudorifera)
Kelenjar keringat dapat menghasilkan keringat. Kelenjar keringat berbentuk botol dan bermuara di dalam folikel rambut. Bagian tubuh yang banyak terdapat kelenjar keringat adalah bagian kepala, muka, sekitar hidung, dan lain-lain. Kelenjar keringat tidak terdapat dalam kulit tapak tangan dan telapak kaki.
e.         Serabut Saraf
Pada lapisan dermis terdapat puting peraba yang merupakan ujung akhir saraf sensoris.
Ujung-ujung saraf tersebut merupakan indera perasa panas, dingin, nyeri, dan sebagainya.Jaringan dermis juga dapat menghasilkan zat feromon, yaitu suatu zat yang memiliki bau khas pada seorang wanita maupun laki-laki. Feromon ini dapat memikat Lawan   jenisDermis (Kulit Jangat)
C.      Etiologi
Beberapa faktor penyebab terjadinya ruam popok ( diaper rash, diaper dermatitis, napkin dermatitis ), antara lain:
1.         Iritasi atau gesekan antara popok dengan kulit.
2.         Kurangnya menjaga hygiene. popok jarang diganti atau terlalu lama tidak segera diganti setelah pipis atau BAB (feces).
3.         Infeksi mikro-organisme (terutama infeksi jamur dan bakteri)
4.         Alergi bahan popok.
5.         Gangguan pada kelenjar keringat di area yang tertutup popok.
6.         Kebersihan kulit yang tidak terjaga.
7.         Jarang ganti popok setelah bayi/anak kencing.
8.         Udara/suhu lingkungan yang terlalu panas/lembab
9.         Akibat mencret
10.     Reaksi kontak terhadap karet, plastik, detergen
D.      Patofisiologi
Hampir semua bayi pernah mengalami ruam atau lecet karena pemakaian popok.
Lokasi yang sering terkena adalah bagian pantat, sekitar kemaluan, maupun paha.
Bahkan, jika bakteri yang terdapat dalam urine bayi Anda terurai menjadi amonia, ruam ini bisa bertambah parah. Tentu saja keadaan ini sangat tidak menyenangkan buat si kecil.
Adapun proses dari Diaper Rash adalah sbb:
Pemakaian Popok  - Pada daerah pantat,kemaluan,Paha  - Hipotalamus memberi rangsangan pada anak untuk BAK  -  Anak kecil tidak bias menahan spinter -  BAK - Popok basah  - Urin menguraikan amoniak  - Menimbulkan bakteri  - Gangguan rasa nyaman  -  Imobilitas kulit  -  Kerusakan kulit  -  Gangguan integritas kulit  -  Ruam popok.

E.       Manifestasi Klinis
1.         Ruam kemerahan atau lecet pada kulit di daerah yang ditutupi popok.
2.         Bayi biasanya terlihat rewel, terutama saat penggantian popok.
3.         Bayi juga mungkin menangis saat kulit di daerah yang ditutupi popok dicuci atau disentuh.
4.         Terdapat bercak-bercak kemerahan pada daerah pantat karena iritasi popok.
5.         Iritasi pada kulit yang terkena, muncul sebagai eritema
6.         Erupsi pada daerah kontak yang menonjol seperti : pantat, alat kemaluan, perut bawah, paha atas.
7.         Keadaan parah : papila eritematosa, Vesikula dan Ulserasi.
F.       Terapi / Penatalaksanaan
1.         Sering-seringlah mengganti popok. Jangan biarkan popok yang sudah basah karena menampung banyak urin berlama-lama dipakai bayi. Kontak yang lama antara urin atau tinja dengan kulit bayi dapat menimbulkan ruam popok.
2.         Saat membersihkan bayi, tepuk daerah yang biasa ditutupi popok (bokong, paha, selangkangan, dan daerah genital bayi) secara perlahan dengan handuk bersih. Usahakan menghindari menggosok-gosok dengan keras daerah tersebut.
3.         Sesekali biarkan bokong bayi terbuka (tidak memasang popok) selama beberapa saat. Tindakan ini mungkin berguna menjaga daerah popok tetap kering dan bersih.
4.         Hati-hati dalam memilih popok, karena beberapa jenis bahan popok dapat merangsang ruam popok. Jika hal itu terjadi, gantilah popok merk lain yang lebih cocok.
5.         Jika bayi anda memakai popok kain yang digunakan berulang kali, cucilah popok kain tersebut dengan deterjen yang formulanya tidak terlalu keras. Hindari memakai pelembut, karena pewangi dalam pelembut tersebut dapat mengiritasi kulit bayi. Pastikan untuk membilas popok dengan baik agar deterjen tidak tertinggal di dalam popok.
6.         Hindari memasang popok terlalu kuat. Usahakan ada ruang antara popok dengan kulit bayi.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
DIAPER RASH

A.     Pengkajian
1.         Identitas klien
2.         Idetitas Keluarga
3.         Pola sensori
4.         Pemeriksaan fisik (status kesehatan umum, pemeriksaan head to toe, pemeriksaan penunjang)
5.         Pemeriksaan tanda-tanda fital dan riwayat penggunaan obat-obatan.
B.     Diagnosa Keperawatan
1.         Imobilitas berhubungan dengan decubitus
2.         Resiko infeksi berhubungan dengan incontinensia
3.         Aktual infeksi, sepsis berhubungan dengan adanya infeksi (dekubitus)
C.     Intervensi Keperawatan
1.         Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kerusakan kulit / jaringan
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan nyeri dapat teratasi
Kriteria hasil:
a.         Nyeri berkurang / terkontrol
b.        Ekspresi wajah rileks.
Itervensi:
a.         Pastikan ibu mengganti popoknya secara rutin.
Rasional: supaya permukaan tidak dalam keadaan lembab/ basah.
b.        Berikan tempat tidur ayunan secara indikasi
Rasional: peninggian linen dari luka membantu menurunkan nyeri
c.         Membasuh pantat bayi dan mengeringkanya
Rasional:<span lang="IN" style="color: #333333; font-family: "Times New Roman","serif"; font-size: 12pt; line-height: 150%

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar